Hikmah Tulisan Uncategorized

SUSAH YANG SESUNGGUHNYA – Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf

                Tiga hari setelah meninggalnya ayahku, Mbah Sholeh Qosim rawuh di rumah kami. Takziyah. Beliau minta maaf, tidak dapat hadir saat pemakaman karena ada udzur. Saya jadi jengah. Mbah Sholeh yang begitu sepuh memaksakan diri menempuh perjalanan jauh dari Sidoarjo ke Rembang hanya untuk menghiburku. Dan beliau minta maaf? Sedangkan aku sendiri tidak tahu, bagaimana harus melahirkan rasa terima kasihku atas penghormatan dan kasing-sayang beliau kepadaku.

                Aku masih galau berat, belum mampu bercakap-cakap secara normal. Dan Mbah Sholeh tahu. Beliau memandangiku lekat-lekat dalam beberapa jurus keheningan.

                “Susah, gus?”

                Aku mengangguk lemah.

                “Inggih”.

                Mbah Sholeh tersenyum. Dan kau tahu, senyum -apalagi dari ruh seorang Mbah Sholeh Qosim- adalah kekuatan penghibur.

                “Ya pantas, Namanya kehilangan…”, kata beliau. Aku cuma menunduk memandangi gelas teh. Gambar-gambar di benakku mengerambang. Tak menentu.

                “Tapi, Sampeyan siap-siap ya, Gus”, Mbah Sholeh melanjutkan. “Kesusahanmu hari-hari ini belum kesusahan yang sesungguhnya. Aku dulu juga ngalami kok, waktu ditinggal Bapakku”.

                Beliau menghela nafas, seperti mengumpulkan kenangan.

                “Susahmu hari-hari ini cuma susah karena kehilangan. Akan berlalu dengan waktu. Susah yang sesungguhnya baru akan datang nanti, paling tidak setelah empat puluh hari. Yaitu saat Sampeyan terpaksa harus mengurusi wadhifah-wadhifah(tanggung jawab-tanggung jawab) yang diwariskan Abahmu”.

Lahumal Fatihah.