Masyayikh Sejarah Tokoh

KH. BISRI MUSTOFA – Oleh KH. A. Mustofa Bisri

                Sejak baru saja wafat tahun 1977, sudah ada keinginan menerbitkan biografi ayahanda KH. Bisri Mustofa-rahimahullah. Beberapa kiai dari berbagai daerah mendorong untuk itu. Keinginan itu bertambah kuat, setelah muncul tulisan In memoriam oleh sahabatnya, KH. Saifuddin Zuhri.

                Namun, entah kesibukan apa yang membuat saya tak kunjung merealisir keinginan itu. Padahal naskah otobiografi -sudah sekitar 60 persen jadi- yang sudah ditulis ayahanda sendiri. Saya hanya sempat menulis ringkasan Riwayat hidup ayahanda dalam Bahasa Arab. Itu pun atas desakan Allah yarham Syaikh Yasin Al-Fadani yang berniat menyusun buku seri tentang ulama Indonesia.

                Kesepakatan untuk menulis bersama kakak saya, KH. Cholil Bisri, pun tak berhasil mewujudkan keinginan tersebut. Akhirnya untuk menulis biografi itu saya serahkan kepada adik saya, M. Adib Bisri, yang profesinya memang penulis. Namun, ajal mendahului menjemputnya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu.

                Maka, bersyukurlah saya ketika Kiai Zuhdi, salah seorang santri ayahanda, memberitahukan anaknya yang di Universitas Indonesia, Huda, akan menulis skripsi tentang KH. Bisri Mustofa. Ketika skripsi itu sudah selesai, saya pun meminta Huda untuk menyempurnakan dan melengkapinya sebagai sebuah buku biografi yang kemudian hasilnya sebagaimana yang ada di tangan Anda ini. Alhamdulillah.

                Barangkali ketidakberhasilan kami, saya dan saudara-saudara, menulis biografi ayahanda KH. Bisri Mustofa, tidak melulu kesibukan dan kemalasan. Tetapi, boleh jadi juga adanya faktor kesulitan untuk menghilangkan atau sekedar mengurangi rasa segan dan subyektifitas sebagai anak-anak yang terlalu menyayangi dan menghormati beliau. Ayahanda, atau kami biasa memanggil beliau Abah, benar-benar merupakan kepala rumah tangga yang disayangi dan sekaligus disegani oleh seluruh anggota keluarga besar kami. Di mata kami-anak-anak dan para santri- Abah benar-benar bagaikan ‘Godfather’. Memiliki wibawa yang luar biasa besar, sehingga sekedar menatap wajahnya saja kami tak sanggup berlama-lama.

                Agaknya karena wibawanya yang besar itulah yang menyebabkan kami semua hampir tidak pernah  berani memulai pembicaraan dengan beliau. Percakapan yang terjadi dengan beliau hampir selalu beliaulah yang membukanya. Di rumah, saat saya makan bersama yang merupakan tradisi kami, sebenarnya merupakan saat paling akrab di mana anggota keluarga dapat menyampaikan apa saja. Namun, di kesempatan seperti itu pun biasanya hanya Abah dan kadang-kadang Ibu kami yang banyak berbicara.

                Baru setelah ada adik kami, Faridah -anak perempuan pertama setelah Kiai Cholil, saya dan Adib, keadaan menjadi berubah. Faridah -meninggal tahun 1977, rahimahallah- adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak saja berani mengawali pembicaraan dengan Abah, bahkan tak segan-segan membantah beliau. Dan memang sejak ada Faridah, Abah tampak berubah ‘egaliter’. Namun, barangkali karena sudah terlanjur, kakak dan adik lelaki saya tetap saja masih memendam rasa sungkan yang besar bila berhadapan dengan beliau. Sepulang dari mukim di Mekkah, dengan alasan ‘menjaga kelancaran bahasa’, kakak saya, Kiai Cholil ‘dipaksa’ berkomunikasi dengan beliau menggunakan Bahasa Arab. Sementara adik saya, Adib hanya bicara apabila beliau bertanya.

                Saya sendiri baru setelah pisah lima tahunan -ketika saya di Mesir- dapat mengubah sikap. Rasa sungkan saya kepada Abah tidak lagi menghambat komunikasi. Saya bisa berbicara secara terbuka dari hati ke hati dengan beliau. Meski Cuma sekitar tujuh tahunan (mulai saya datang dari Mesir tahun 1970 s/d wafat beliau tahun 1977) saya merasa lebih beruntung. Selama itu hubungan saya dengan Abah -tidak seperti sebelumnya- benar-benar akrab. Kami sering berdiskusi secara terbuka tentang berbagai masalah, mulai dari masalah keluarga sampai masalah politik.

                Pendek kata, tahun-tahun terakhir kehidupan beliau itulah tahun-tahun di mana saya merasa paling akrab dengan beliau. Dari sanalah saya lebih mengenal beliau. Mengenal sisi-sisi pribadi beliau di luar yang sudah banyak diketahui orang. Apalagi selama bertahun-tahun itu, saya masih dompleng serumah dengan beliau. Saya sering -hampir setiap malam ketika di rumah- menyaksikan beliau tekun melakukan muthala’ah kitab dan menulis sampai larut. Kemudian shalat malam dan munajat.

                Di dalam menulis, Abah mempunyai ‘filsafat’ yang menarik. Pernah suatu ketika beliau berbincang-bincang dengan sahabatnya, -guru saya- KH. Ali Maksum Krapyak tentang tulis-menulis ini. “Kalau soal keilmuan, barangkali saya tidak kalah dari Sampeyan, bahkan mungkin saya lebih alim”, kata Kiai Ali ketika itu dengan nada kelakar seperti biasanya. “Tapi, mengapa Sampeyan begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga sudah macet tak bisa melanjutkan”.

                Dengan gaya khasnya, Abah menjawab, “Lha soalnya Sampeyan menulis lillahi ta’ala sih!”. Tentu saja jawaban ini mengagetkan Kiai Ali. “Loh Kiai menyimpan kok tidak lillahi ta’ala; lalu dengan niat apa?”.

                “Kalau saya, menulis dengan niat nyambut gawe. Etos saya menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya, bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu. Kalau belum-belum Sampeyan sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu Sampeyan dan pekerjaan Sampeyan tak akan selesai. Lha nanti kalua tulisan sudah jadi dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ilmi atau apa. Setan perlu kita tipu”.

                Memang dalam kenyataannya, beliau menulis di mana-mana. Selain di rumah, di perjalanan, di hotel, bahkan di atas mobil pun beliau bisa menulis. Mengajar santri-santri, beliau -seperti guru atau dosen formal- menyiapkan persiapan mengajar dan kelak persiapan inipun menjadi buku. Kejenuhan menulis pun beliau tangkal dengan menulis. Artinya, bila beliau merasa jenuh menggarap suatu naskah yang berat, beliau pun menyelingi dengan naskah-naskah ringan, seperti yang kemudian menjadi buku kumpulan anekdot Kasykul, Abu Nawas, novel berbahasa Jawa, Qohar lan Sholihah, naskah drama Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha, Syi’iran Ngudi Susilo, dsb.

                Seperti diceritakan di atas, ketika beliau selesai bekerja, membaca dan menulis, beliau biasanya langsunng mengambil air wudlu, shalat malam, dan munajat. Munajat beliau seringkali menggunakan bahasa ibu, sehingga yang mendengar pun paham apa yang beliau adukan kepada Tuhan. Biasanya beliau mengawali munajat dengan shalawat dan puji-pujian kepada Rasulullah saw. Persoalan pribadi hingga persoalan bangsa dan negara, beliau adukan dengan ungkapan-ungkapan penuh keakraban.

                Kebiasaan beliau yang lain adalah mengundang para kiai atau sahabat-kenalan untuk mayoran, makan-makan bersama. Biasanya ini beliau lakukan setelah berhasil menyelesaikan suatu naskah karangan. ‘Mewah’ dan tidaknya mayoran, tentu saja tergantung seberapa banyak beliau memiliki uang saat itu. Kadang-kadang menyembelih kambing, kadang-kadang memanggil pedagang makanan keliling, seperti penjual sate, soto, dsb. Dan tidak jarang hanya sekedar liwetan dengan lauk sambal terong. Sehubungan dengan kebiasaan ini, pernah Almarhum H. Zainuri pemilik penerbitan ‘Menara’ yang sering menerbitkan buku-buku beliau, berkata kepada saya: “Sebetulnya Abah kamu itu bisa menjadi kaya, seandainya dapat meninggalkan kebiasaan mayoran”.

                Dalam acara mayoran seperti itu, kami anak-anak beliau hampir selalu dilibatkan; khususnya untuk melayani. Karena itu, di samping kandungan acara tersebut yang berupa syukuran dan silaturahim, kami mendapatkan manfaat tambahan dari menyerap percakapan-percakapan berhikmah para kiai dan pengenalan terhadap berbagai karakter manusia. Saya sangat meyakini manfaat itu bagi kehidupan saya sendiri di kemudian hari.

                Saya memang lebih banyak mendapatkan pelajaran yang tidak langsung dari Abah seperti itu atau melalui kinayah-kinayah, isyarat-isyarat, ketimbang yang berupa pengajian atau nasihat-nasihat. Sering saya diajak silaturahim  dan dikenalkan dengan kiai-kiai dan tokoh-tokoh. Hal ini saya Yakini beliau maksud sebagai pembelajaran bagi saya tentang karakter-karakter keteladanan.

                Namun, bukan berarti beliau tidak pernah sama sekali menasihati langsung. Salah satu nasihat beliau yang sangat menyentuh dan karenanya tak bisa saya lupakan ialah ketika beliau berbicara tentang Pendidikan. “Mendidik anak atau santri itu,”-kata beliau, “haruslah lahir batin. Tidak cukup lahirnya saja dengan mengandalkan kemampuan mendidik. Karena didikanmu hanyalah ikhtiyar dan yang sebenarnya menjadikan anak didik menjadi terdidik adalah Allah”.

                “Abah ini,”-kata beliau selanjutnya mencontoh-jelaskan, “bila kebetulan diminta mengisi pengajian di suatu tempat dan terpaksa harus meliburkan pengajian di pesantren, Abah tidak pernah lupa sebelum naik mimbar, matur: “Ya Allah, saya kemari ini diundang kawan-kawan untuk menyampaikan firmanMu dan sabda rasulMu, namun sementara saya menyampaikan firmanMu dan sabda rasulMu di sini, santri-santri saya di pesantren yang dititipkan orang tua mereka terpaksa libur tidak saya  ajar. Maka Ya Allah, apabila amal saya di sini Engkau terima dan ada pahalanya, saya mohon pahala itu tidak usah Engkau berikan kepada saya, tetapi Engkau tukar saja dengan futuhMu atas santri-santri saya yang kini libur, bukalah hati mereka bagi ilmu-ilmuMu”.

                Berbeda dengan Almarhum wal maghfurlah paman saya, KH. Misbah Mustofa yang juga kiai pesantren dan penulis produktif, dalam menulis maupun berdakwah, Abah menggunakan prinsip, ‘Yassiruu walaa tu’assiruu’, berlaku gampang dan tidak mempersulit. Hal ini segera tampak dari tulisan maupun ceramah beliau. Beliau selalu berusaha -agar dapat- berbicara tentang masalah-masalah yang berat dengan bahasa orang awam yang sederhana. Sahabat beliau, Almarhum KH. Ali Maksum, mengakui salah satu keistimewaan beliau ialah dapat berbicara ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Demikian pula, menurut Almarhum H. Zainuri Noor, pemilik penerbitan/percetakan ‘Menara’ yang banyak menerbitkan kitab-kitab beliau.

Rembang, 19 Jumadil ‘Ula 1425 / 7 Juli 2004