Masyayikh Sejarah Tokoh

KH. BISRI MUSTOFA – Oleh KH. M. Cholil Bisri

                Tentu saja sebagai anak sulung dari KH. Bisri Mustofa dan yang merasa bertanggung-jawab untuk meneruskan beliau, merasa senang dan bergembira dengan terbitnya buku Riwayat Hidup atau Biografi KH. Bisri Mustofa yang tentu saja masih banyak yang belum terangkum di dalamnya. Orang-orang yang mengenal KH. Bisri Mustofa memang sudah tidak ada, kalaupun ada hanya sepotong-sepotong sehingga buku ini menjadi salah satu bagian untuk merangkai potongan-potongan itu.

                Saya menengarai dan melihat bahwa KH. Bisri Mustofa mempunyai kemampuan untuk membuatkan alur bagi panggilan jiwa putera-puterinya. Beliau tidak pernah memaksakan anak-anaknya harus begini dan harus begitu. Oleh karena itu, beliau tidak pernah memaksakan anaknya dalam hal Pendidikan, misalnya harus urut (teratur dalam jenjang Pendidikan). Contohnhya seperti saya ini, ketika saya diperebutkan KH. Ali Maksum dan KH. Mahrus Ali dalam hal nyantri, beliau mempersilakan saya untuk memilih dan mengikuti apapun pilihan saya. Oleh karena itu, saya besar di dua pesantren Lirboyo dan Krapyak. Ketika saya sudah tidak berminat lagi di Lirboyo dan Krapyak, saya kemudian ngaji ke Bapak saya sendiri. Ada hal yang beliau tekankan kepada saya yaitu kalimat, “Kalau orang lain bisa, kamu juga harus bisa”, “Orang tidak perlu jenius, tetapi cukup cerdas, kecerdasan itu sudah cukup. Kamu harus yakin bahwa dengan ilmu segala sesuatu bisa dicapai”. Beliau tidak seperti kiai-kiai lain yang ketika putera-puterinya pulang dari pondok pesantren pasti akan dites. Akan tetapi, KH. Bisri Mustofa tidak seperti itu. Termasuk tidak memaksakan dalam menentukan jodoh anak-anaknya. Beliau cuman memberikan kriteria-kriteria, yaitu kriteria pasangan yang bisa diajak untuk berjuang.

                KH. Bisri Mustofa mempunyai ragam pergaulan yang sangat luas, mulai dari orang-orang gelandangan sampai level presiden. KH. Bisri Mustofa mengenal baik Bung Karno. Presiden pertama itu pernah datang ke tempat KH. Bisri Mustofa di Rembang. Seingat saya KH. Bisri Mustofa pernah mengatakan kepada santri-santri yang sewaktu itu saya tidak ikut ngaji dengan pesan-pesan sebagai berikut: “Kamu sebagai santri-santri harus bisa memanfaatkan ilmu yang saya ajarkan dengan berbagai cara apapun. Bisa dengan cara mengajar santri-santri, bisa dengan mengaji lagi, bisa dengan politik, atau dengan cara menulis. Lebih-lebih bisa semua”. Beliau tidak hanya berbicara, tetapi hal-hal tersebut beliau lakukan dan berikan contoh. Dalam satu hari beliau mengaji dan mengajarkan kitab, lebih dari 15 kitab. Hal itu yang saya tidak mampu melakukannya. Selain itu, KH. Bisri Mustofa memberikan pengajaran di mana-mana dan menjadi orator yang mudah dimengerti masyarakat, selain menjadi penulis yang handal.

                Pengalaman KH. Bisri Mustofa memang sangat lengkap. Beliau pernah menjadi pegawai penghulu di KUA pada zaman kemerdekaan. Beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Konstituante. Selain itu, beliau adalah seorang pedagang yang lihai. Obsesi KH. Bisri Mustofa adalah menyenangkan orang lain sampai Ibu saya pernah alok(protes) kepada Bapak saya, mengapa semua yang datang disambut dan diopeni. Semisal bapak Kartono, ia adalah seorang pengangguran. Ia pasti datang setiap 2 hari sekali dan setiap pulang pasti diberi uang saku oleh Bapak saya. Juga Muhammad Miftah, seorang penjual jamu bahkan ia tiap hari datang menemui Bapak saya. KH. Bisri Mustofa tidak pernah bosan menjaga hubungan dengan orang-orang seperti itu, meskipun sering beliau itu dibohongi. Tetapi, KH. Bisri Mustofa tahu kalau beliau dibohongi, tetapi beliau diam saja.

                Salah satu kegemaran KH. Bisri Mustofa adalah berziarah, baik kepada orang-orang saleh yang masih hidup maupun orang-orang yang sudah wafat. Waktu-waktu senggang beliau manfaatkan untuk berziarah, meskipun tidak sekaligus mengunjungi seperti Walisongo. Akan tetapi pada hari tertentu beliau ziarah ke Sunan Bonang Tuban. Kemudian di hari yang lain ziarah ke Sunan Kudus dan seterusnya.

                KH. Bisri Mustofa juga seorang pelobi dan negosiator yang handal. Beliau bisa merukunkan antara KH. Idham Kholid dengan Subhan ZE. Ketika banyak kiai yang menemukan kesulitan dan persoalan seperti KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri, mereka acap-kali datang ke beliau meminta pertimbangan untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan itu. Beliau pernah mengatakan kepada saya untuk selalu mengabdi pada keyakinan. Seseorang tidak perlu bermain dalam struktur, lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan. Inilah hal yang beliau tekankan kepada saya. Beliau sangat tahu waktu, kapan harus bicara dan kapan harus diam.

                Ketika saya sudah dianggap siap terjun di masyarakat, beliau mengatakan kepada saya kalau ingin dihargai pejabat maka jadilah politisi dan kalau ingin dihargai oleh masyarakat maka kamu harus mulang(mengajar) atau ngaji. Jangan mempunyai keinginan yang terlalu muluk karena hal itu bisa menjadikan orang tersebut tidak ikhlas. Karena inti dari segala sesuatu adalah ikhlas. Akan tetapi, keikhlasan menurut KH. Bisri Mustofa bisa dilaksanakan menyusul. Kita berbuat dan beramal hanyalah karena Allah SWT. Dan ikhlas yang menyusul itu adalah seperti contoh Ketika beliau menulis dan mengarang kitab. Boleh saja kita mempunyai harapan, mendapatkan honor atau penghargaan lainnya. Akan tetapi, Ketika pekerjaan menulis dan mengarang kitab ini selesai, kita tidak usah mengharapkan honor. Kalau ada kita terima, kalaupun tidak ada pasti akan diganti oleh Allah SWT langsung.

                Kecintaan KH. Bisri Mustofa kepada anak-anak dan santri-santrinya tersebut bersifat muta’addi(terus-menerus) tidak qashir(terbatas). Selain santri-santri itu diberikan ilmu dan diajarkan pengetahuan, mereka juga didoakan dalam setiap shalat dan setiap ceramah KH. Bisri Mustofa. Saya sering memergoki KH. Bisri Mustofa pada malam hari. Pada malam-malam itu beliau selalu bermunajat kepada Allah yang pada intinya memohon kepada Allah agar anak-anak dan santri-santri beliau diberikan futuh(keterbukaan), agar diberikan jalan untuk mendapatkan ridlo Allah SWT dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

                KH. Bisri Mustofa telah wafat, tetapi rasanya beliau terus hadir dan masih ada. Setiap orang masih membaca Al-Ibriz, tafsir karya beliau. Bisa ditanyakan kepada santri-santri, seperti KH. Wildan Kendal, KH. Nurhadi Batang, KH. Musyaffak Demak, KH. Afif Semarang, mereka masih ingat selalu ucapan langsung KH. Bisri Mustofa kepada mereka yang intinya adalah kalua ingin hidup mulia dan nyaman di dunia dan akhirat maka seseorang itu harus pintar dan cerdas, harus alim dan aqil. Jangan menggantungkan segala sesuatu kepada yang lain, kecuali hanya bergantung kepada Allah SWT dan atas kemampuan sendiri agar tidak terjebak pada syirik.

                Seperti yang pernah dituliskan KH. Bisri Mustofa bahwa KH. Bisri Mustofa hanya mengaji di hadapan KH. Cholil Harun sewaktu di Indonesia. Di Makkah beliau ngaji dengan Syaikh Umar Hamdan dan KH. Muhaimin. Ada juga beberapa kiai lain yang tidak mau disebut sebagai kiai atau guru beliau, yaitu KH. Kamil dan KH. Fadloli.

                Memang sulit untuk membayangkan sosok seperti KH. Bisri Mustofa dilahirkan kembali, beliau seorang pengajar yang dicintai, seorang orator yang tiada tanding, dan seorang penulis yang produktif. Karangan-karangan beliau telah dicetak lebih dari 276 judul dan semua itu telah terjual ke penerbit. KH. Idham Kholid bahkan pernah menanyakan kepada KH. Bisri Mustofa kenapa karangan-karangan itu dijual, apakah beliau tidak pernah memikirkan masa depan putera-puterinya? KH. Bisri Mustofa hanya menjawab kalau anak-anak saya pintar dan cerdas, pasti akan membuat karangan dan buku sendiri.

Jakarta, Juni 2004