Kegiatan mengaji di kampung Leteh, Rembang ini -tepatnya di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin- dimulai sekitar tahun 1950-an oleh KH. Bisri Mustofa. Namun ini merupakan pencabangan dari pesantren yang lebih tua di kampung Kasingan, tidak jauh dari Leteh, yang didirikan oleh KH.Cholil Harun. KH. Bisri Mustofa adalah salah satu menantu dari KH. Cholil Harun.

Pondok Pesantren -Raudlatut Thalibin- Kasingan ini pada zamannya, sekitar tahun 1920-an merupakan salah satu dari tiga pondok pesantren yang dipandang sebagai ‘semacam’ perguruan tingginya pesantren, yaitu Pesantren Kasingan yang diasuh KH. Cholil Harun, Pesantren Tremas, Pacitan yang diasuh oleh KH. Dimyati dan Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ketiganya mempunyai spesialisasi yang berbeda-beda. Pesantren Tremas di bidang fikih. Pesantren Tebuireng spesialisasinya hadis. Pesantren Kasingan asuhan KH. Cholil Harun ini spesialisasinya adalah ilmu alat, khususnya Nahwu dan Shorrof. Ini dimulai sejak 1910-an.

Sepeninggal KH. Cholil Harun, KH. Bisri Mustofa membangun surau (langgar) di Leteh di tanah waqaf dari ibu beliau. Karena ada beberapa santri yang ikut beliau, KH. Bisri Mustofa mulai mengajar santri-santri tersebut yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Seiring perjalanan waktu, pesantren KH. Bisri mengalami perkembangan. Pada tahun 80-an, jumlah santri yang tinggal di pesantren mencapai seribu santri.

Ada hal yang mendasar yang diajarkan KH. Bisri Mustofa kepada santri-santrinya. Bahwa santri tidak hanya dituntut menjadi seorang yang alim tapi juga harus menjadi seorang yang aqil. Alim artinya memiliki pengetahuan. Tahu mengenai berbagai macam hal. Aqil artinya memiliki kecerdasan sehingga tahu bagaimana memanfaatkan pengetahuannya (ilmu) dalam berbagai kondisi yang dihadapi.

Pengajaran di pesantren ini awalnya adalah murni salaf. Dilakukan dengan cara bandongan (kuliah umum) dan sorogan (privat). Namun pada perkembangannya, atas usul dari KH. Cholil Bisri dan disetujui oleh KH. Bisri Mustofa, pesantren ini mengembangkan pengajaran model madrasi. Ada kelas atau jenjang yang ditempuh oleh santri. mulai dari i’dad (kelas persiapan) sampai tsanawi (kelas lanjutan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *